Jamaah yang pernah membaca Al-Quran di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, pasti pernah melihat deretan mushaf Al-Quran di rak-rak yang tersebar di Masjidil Haram maupun Masjid nabawi.. Sebagian mushaf memiliki sampul hijau, sementara sebagian lainnya berwarna biru. Beberapa jamaah kemudian bertanya apakah mushaf tersebut berbeda?
Sebenarnya, perbedaan warna ini tidak berkaitan dengan isi Al-Quran. Ayat yang tertulis tetap sama, karena semuanya menggunakan mushaf yang mengikuti rasm Utsmani, yaitu sistem penulisan Al-Quran yang diwariskan sejak masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu. Namun warna sampul tersebut biasanya menunjukkan perbedaan ukuran atau fungsi mushaf yang disediakan di Haramain.
Mushaf hijau adalah mushaf standar yang terbanyak digunakan
Mushaf dengan sampul hijau adalah yang paling umum ditemui di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Inilah yang biasa disebut sebagai Mushaf Madinah, yaitu mushaf yang dicetak oleh King Fahd Complex for the Printing of the Holy Qur’an di Madinah.
Beberapa ciri utama mushaf ini antara lain:
- Menggunakan rasm Utsmani yang menjadi standar internasional.
- Setiap halaman terdiri dari 15 baris ayat, format yang sangat populer di kalangan penghafal Al-Quran.
- Hurufnya jelas dan ukuran mushaf relatif sedang sehingga nyaman dibaca di dalam masjid.
- Biasanya disimpan di rak-rak mushaf yang tersedia di seluruh area shalat.
Karena dicetak dalam jumlah sangat besar dan didistribusikan ke berbagai negara, mushaf ini menjadi salah satu mushaf Al-Quran yang paling banyak digunakan di dunia.
Di Al-Haramain, mushaf hijau ini biasanya merupakan mushaf utama yang dipakai jamaah untuk membaca Al-Qur’an setelah shalat atau saat menunggu waktu ibadah berikutnya.
Mushaf biru berukuran lebih besar
Selain mushaf hijau, jamaah juga sering menemukan mushaf dengan sampul biru. Mushaf ini pada umumnya berukuran lebih besar dibandingkan mushaf hijau.
Ukuran yang lebih besar ini memiliki beberapa tujuan, misalnya:
- Memudahkan jamaah lanjut usia membaca ayat karena hurufnya lebih besar.
- Digunakan oleh jamaah yang membaca Al-Quran dalam waktu lama sehingga membutuhkan teks yang lebih jelas.
- Kadang dipakai dalam halaqah atau majelis membaca Al-Quran di dalam masjid.
- Walaupun ukurannya berbeda, isi mushaf biru tetap sama dengan mushaf hijau. Tata letak halaman, sistem penulisan, dan ayatnya tetap mengikuti mushaf standar yang dicetak di Madinah.
Mengapa mushaf Al-Quran di Al-Haramain dibuat seragam?
Keseragaman mushaf di Al-Haramain bukan tanpa alasan. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi setiap hari dikunjungi oleh muslim dari berbagai negara dengan latar belakang bacaan yang berbeda.
Dengan menggunakan mushaf yang sama, jamaah dapat:
- Membaca Al-Quran dengan format yang konsisten,
- mengikuti imam atau halaqah dengan lebih mudah,
- meminimalkan perbedaan penulisan ayat.
Percetakan Al-Quran di Madinah memang secara khusus mencetak mushaf untuk didistribusikan ke berbagai masjid di dunia, termasuk Haramain.
Pengalaman yang sering dirasakan jamaah
Mungkin ada jamaah umrah atau haji, membaca Al-Quran langsung dari mushaf yang tersedia di Haramain menjadi pengalaman yang berkesan. Setelah shalat, tidak sedikit jamaah yang duduk sejenak di area masjid, mengambil mushaf dari rak, lalu membaca beberapa halaman dengan tenang.
Sebagian jamaah bahkan memiliki kebiasaan tertentu, misalnya menargetkan satu juz setiap hari selama berada di Makkah atau Madinah.
Dalam suasana masjid yang tenang, mushaf hijau atau mushaf biru yang diambil dari rak sederhana itu sering menjadi teman ibadah yang menemani waktu-waktu berharga di tanah suci.
Kesimpulannya, mushaf biru dan mushaf hijau yang sering terlihat di Haramain sebenarnya memiliki isi yang sama. Perbedaan umumnya hanya pada warna sampul dan ukuran mushaf. Keduanya tetap menggunakan Mushaf Madinah yang dicetak secara resmi di Madinah dan digunakan oleh jamaah dari seluruh dunia.
