Di antara desir pelan langkah jamaah dan denting waktu yang nyaris tak terdengar, berdirilah puluhan pintu pagar Masjid Nabawi yang terlihat mirip. Tapi di setiap sisi pagar itu, tergantung sesuatu yang tak bisa dianggap remeh yaitu plang berwarna yang bertuliskan angka tiga digit dalam Latin dan Arab. Papan besar yang menyimpan beragam fungsi, sebagai penunjuk arah, penanda posisi, sekaligus pengingat titik kembali.
Masjid Nabawi memantulkan keteraturan dari segala sisi. Mulai dari shaf yang rapi, lantai yang bersih, sampai pintu-pintu dan pagar yang tertata dengan sistem penomoran yang jelas. Di sanalah rasa tenang tumbuh pelan-pelan, dari arah yang terukur dan jalan keluar yang tak membingungkan.
Sistem Penomoran 3 Digit di 69 Gerbang Pagar yang Tertata
Masjid Nabawi memiliki 69 pintu gerbang (pagar) utama dengan sistem penomoran tiga digit dari 301 sampai 370. Plang di sisi setiap gerbang menunjukkan angka ini secara jelas, dan ditandai warna berbeda tergantung arah gerbang menghadap.
Sekali lagi, yang dimaksud adalah warna plang petunjuk, bukan pintu gerbangnya. Warna ini sangat memudahkan jamaah mengingat posisi masuk. Sepertinya ini terlihat sepele, tapi menjadi sangat penting ketika shalat usai dan seluruh jamaah keluar bersama dalam gelombang besar.
Warna Plang dan Letaknya
Berikut pembagian warna plang pintu Masjid Nabawi berdasarkan nomor dan arah:
| Warna Plang | Nomor Gerbang | Letak/Arah |
|---|---|---|
| Hijau | 301–308, 365–370 | Sisi selatan (tepat di depan imam shalat) |
| Ungu | 310–313 | Barat laut (kanan depan dari arah imam) |
| Oranye | 314–327 | Sisi barat |
| Merah | 328–343 | Sisi utara |
| Biru | 344–364 | Sisi timur |
Plang warna ungu (310–313) misalnya, berada di arah barat laut, agak menyamping dari sisi barat utama. Bila berdiri di mihrab menghadap kiblat, posisi plang gerbang ungu ada di kanan depan. Sedangkan plang hijau yang melingkupi pintu 301–308 dan 365–370 menandai sisi selatan, tepat di depan imam.
Satu catatan penting adalah jamaah wanita akan lebih dekat masuk Nabawi melalui gerbang berplang merah (328–343), yang terletak di sisi utara. Akses menuju area khusus wanita memang dirancang melalui jalur tersebut. Maka dari itu, banyak muthawif mengarahkan jamaah perempuan untuk masuk dan keluar dari pintu-pintu dengan plang berwarna merah.
Plang yang Tak Sekadar Penanda
Setiap warna memberi makna, seperti hijau menenangkan, merah mengingatkan, biru menyejukkan, kuning membumi, dan ungu mengundang rasa ingin tahu. Warna-warna ini hadir tidak hanya untuk keindahan, tapi juga menjadi pengingat arah dan posisi. Diam-diam, ia menjadi penjaga langkah para jamaah.
Di balik warna plang itu tersimpan pelajaran, sabar, ketika langkah kita keliru; tawakal, saat tak ada sinyal dan hanya ada plang sebagai petunjuk; dan ikhlas, saat sandal tak lagi ditemukan di rak tempat semula.
Sistem WC Ditetapkan dengan Nomor
Toilet di Masjid Nabawi juga menggunakan sistem penomoran dua digit dengan angka awalan 2, dari 201 hingga 236. Penempatan WC juga mengikuti arah mata angin. Letaknya tersebar di seluruh sisi kompleks masjid, baik untuk pria, wanita, maupun penyandang disabilitas.
Posisinya mengikuti logika yang sama dengan plang pintu gerbang, agar jamaah tidak kesulitan menemukannya dari sisi mana pun.
Langkah yang Perlu Diingat
Masuk dari gerbang berplang kuning bisa jadi mengarah ke sisi barat. Keluar dari gerbang berplang merah bisa membawamu ke sisi utara. Perpindahan seperti ini kerap membuat jamaah kehilangan orientasi, apalagi saat masjid padat dan semua sudut tampak serupa.
Warna tidak berbicara, tapi kehadirannya memberi arah. Ia mengajarkan satu hal penting dalam perjalanan ibadah: mengenali titik awal, agar langkah pulang lebih mudah ditemukan.
Pelajari Sebelum Berangkat
Bagi siapa pun yang hendak menuju Masjid Nabawi, memahami sistem plang gerbang ini adalah bagian dari persiapan batin. Di halaman artikel JafaTour, sudah tersedia banyak panduan yang bisa dibaca sebelum berangkat. Karena ibadah yang tertata tidak dimulai saat doa dibaca, tapi sejak langkah pertama diambil dengan yakin.
