Lima Jenis Nasi Timur Tengah yang Sering Disangka Sama Padahal Berbeda

nasi mandhi

Nasi Arab itu identik dengan porsi besar, aroma rempah yang tajam, dan sajian daging yang menggiurkan. Tapi ternyata, nggak semua nasi khas Timur Tengah itu sama. Ada nasi kebuli, biryani, kabshah, mandhi, sampai bukhari yang semuanya punya ciri khas sendiri, dari jenis beras sampai cara masaknya.

Pernah makan salah satunya saat umrah atau di restoran Arab? Yuk kita kulik lebih dalam. Siapa tahu jadi tahu mana yang paling cocok di lidah kamu.

1. Nasi Kebuli

Nasi kebuli sering muncul di meja-meja besar khas Betawi, sering dianggap versi “fusion” antara hidangan Arab dan cara memasak India-Afganistan. Rasanya gurih dan harum karena dimasak pakai kaldu kambing dan minyak samin.

Jenis beras: Basmati
Ciri khasnya ada pada campuran rempah semisal kapulaga, cengkeh, kayu manis, pala, dan jintan. Biasanya dilengkapi irisan kurma atau kismis dan daging kambing empuk. Kombinasi rasa gurih dan manisnya bikin kenyang sekaligus puas.

2. Nasi Biryani

Nasi yang satu ini terkenal karena tampilannya yang berwarna-warni dan aromanya yang mewah. Populer di India dan Pakistan, tapi juga jadi favorit di Timur Tengah.

Jenis beras: Basmati super panjang
Cara penyajiannya secara garis besar adalah ditumpuk (layering) antara nasi dan daging. Ada dua macam nasi biryani yaitu Kacchi Biryani, yaitu semua bahan mentah dimasak menjadi satu. Yang kedua adalah Pakki Biryani dimana semua bahan dimasak terpisah, lalu baru di-mix ketika akan disajikan. Rempah yang digunakan banyak seperti kunyit, saffron, jahe, daun mint, dan daun ketumbar. Rasanya kuat tapi tetap nyaman di perut. Cocok buat yang suka nasi penuh bumbu.

3. Nasi Mandhi

Inilah nasi yang paling sering dinikmati jamaah umrah di Arab Saudi. Rasanya ringan tapi tetap nikmat. Dimasak dengan cara dikukus bersama kaldu daging, lalu diberi aroma asap.

Jenis beras: Basmati
Biasanya disajikan dengan sambal tomat segar bernama shatta, plus daging ayam atau kambing panggang.

Bersama JafaTour, makan nasi mandhi bukan sekadar isi perut. Disajikan dalam satu loyang besar, cukup untuk empat hingga lima orang, disantap sambil duduk melingkar. Jamaah saling berbagi, suap demi suap nasi mandhi dinikmati dengan ditemani segelas kopi.

Setelah berjam-jam melakukan prosesi umrah, dari thawaf, sa’i, hingga tahallul, rasa lapar terbayar dengan nasi hangat, aroma rempah, dan daging empuk. Tapi yang bikin lebih terasa nikmat adalah suasana kebersamaan. Duduk bersama orang-orang yang mungkin baru dikenal, tapi sudah terasa seperti saudara.

Itulah salah satu hal yang membekas dari umrah bersama JafaTour. Di antara padatnya ibadah dan banyaknya perenungan, momen sederhana seperti makan bersama justru jadi penguat hati. Nasi mandhi hadir bukan hanya sebagai sajian khas, tapi sebagai pengantar rasa syukur yang mendalam.

4. Nasi Kabshah

Sekilas mirip dengan mandhi, tapi lebih berat. Asalnya dari bagian tengah Saudi Arabia, terutama wilayah Najd. Kabshah lebih kaya tomat dan bumbu.

Jenis beras: Basmati atau long grain lokal
Nasi dimasak bersama tomat, bawang bombai, dan rempah seperti kapulaga dan kayu manis. Rasanya lebih ramah lidah, nggak terlalu ringan tapi juga nggak seberat kebuli. Biasanya ditemani daging kambing atau ayam yang lembut dan cocok dipadu salad Arab atau tabbouleh agar punya dimensi segar di tiap gigitan.

5. Nasi Bukhari

Nasi bukhari punya rasa paling netral di antara semua. Nggak terlalu rempah, cocok buat lidah Indonesia.

Jenis beras: Basmati
Ciri khasnya ada di topping berupa irisan wortel, kismis, dan kacang almond. Rasanya gurih, sedikit manis, dan biasanya disajikan dengan ayam goreng atau daging panggang. Tekstur pulen berpadu dengan sensasi manis lembut dan gurihnya rempah. Pas untuk kamu yang suka perpaduan rasa, seolah dapur Afganistan hadir di piring.

Nasi Arab, Kenangan yang Nggak Sekadar Rasa

Lima jenis nasi ini tak hanya soal makanan, tapi juga soal suasana. Rasanya bisa mirip-mirip, tapi tiap jenis punya karakter yang unik. Yang satu kaya rempah, yang lain ringan dan bersih. Ada yang cocok buat rame-rame, ada juga yang nikmat dimakan sendiri.

Tapi saat disantap dalam perjalanan umrah, semuanya terasa berbeda. Di sela-sela jadwal ibadah, saat kaki pegal dan badan lelah, datang nasi hangat dengan aroma sedap dan loyang besar di tengah. Disantap bareng teman seperjalanan, diselingi tawa dan cerita. Nikmatnya lebih dalam, syukurnya lebih terasa.

Jafa Tour memahami bahwa perjalanan ibadah juga penuh momen yang perlu dikenang. Termasuk saat nasi mandhi datang di hadapanmu, hangat dan mengepul, mengundang kebersamaan yang tulus.

Artikel Popular

Table of Contents

Share Artikel :

Hubungi kami di : +62 898-1875-333

Kirim email ke kamijafatour.marketing@gmail.com